Orang Marketing Tetap Memegang Kendali di Era AI

marketing di era AI

DHADigital.com - Apakah marketing akan digantikan oleh AI? Untuk saat ini jawabannya adalah "orang marketing belum bisa digantikan AI". Artinya orang markeing masih memegang kendali untuk 5–10 tahun ke depan dari segi market konsumen generasi X, Milenial dan Gen Z yang masih lebih memilih real human dibandingkan AI atau robot. Tapi mungkin 10 tahun lagi bisa jadi AI sudah lebih diterima.

Untuk saat ini marketing sangat kompleks dan lebih identik dengan psikologi manusia, budaya, dan komunikasi. Sedangkan AI lebih unggul di bidang data, sistem, dan teknis.

Seringkali masalah marketing itu bukan sekadar kualitas dan spesifikasi produk, tetapi soal emosi manusia. Emosi manusia berbeda-beda, dan AI saat ini masih belum begitu diterima dalam hal pemasaran tanpa sentuhan manusia. Tapi ini karena faktor kebiasaan, kita tidak tahu generasi ke depan ketika mereka lebih terbiasa berkomunikasi dengan AI, maka semua bisa berubah.

Manusia VS Bot AI

Konsumen sebagai manusia lebih suka dengan manusia secara langsung dibandingkan dengan AI. Seperti contohnya adalah live shopping dan CS. Bayangkan jika yang live shopping adalah sepenuhnya robot, bukan manusia? Akan menarik tapi mungkin terasa aneh.

Untuk saat ini kebanyakan konsumen masih memilih manusia asli dibandingkan dengan robot. Terkadang kekurangan manusia bisa menjadi kelebihan dibandingkan dengan kesempurnaan robot AI.

Selain itu, contoh sistem customer service CS Manusia vs Bot. Memang mudah untuk melayani kebutuhan yang butuh jawaban pasti dan cepat, contohnya untuk sistem checkout, pendaftaran, atau informasi pasti. Tapi ketika menjawab masalah yang ada emosi, maka CS bot terasa tidak memuaskan.

Berkaca dari Kondisi di Era Covid-19

Di saat itu orang dipaksa untuk berdiam diri di rumah selama 2 tahun, mall tutup, rumah makan dan restoran hanya bisa beli untuk dibawa pulang. Minim interaksi untuk mencegah penularan Covid yang merebak luas di waktu itu.

Di tahun 2023 kehidupan sudah kembali normal sepenuhnya, ternyata orang kembali lagi ke mall, ke restoran, suka pergi makan ke rumah makan. Dan hanya sedikit yang tetap memilih online.

Tempat-tempat yang ramai seperti event, pameran, dan konser kembali ramai. Semakin ramai suatu tempat orang berkumpul, maka semakin ramai dagangan yang dijual.

Bukti bahwa orang membeli bukan sekadar AI, tapi karena siapa penjualnya, atau siapa orang marketing di balik itu.

Tetapi memang setelah Covid orang masih tetap membeli secara online, muncul bekerja secara remote atau WFA (work from anywhere) dan berkembang pesat AI di awal tahun 2024 hingga sekarang.

Era Content Creator dan Affiliator

Kemudian disusul era content creator dan affiliator yang puncaknya di tahun 2023–2025. Mereka menjadi bagian dari marketing sosial media yang sangat kuat dampaknya.

Ya, faktanya mereka rata-rata sudah menggunakan AI untuk konsep dan membuat kontennya, tapi yang muncul di depan konsumen tetaplah wajah-wajah manusia, sedangkan AI bekerja di belakang layar.

Saya sendiri juga membuat konten, dalam merencanakan sebuah konten jauh lebih mudah jika berdiskusi dulu dengan AI seperti Gemini dan ChatGPT untuk menemukan ide dan konsep terbaik.

Sebenarnya perpaduan antara marketing yang memanfaatkan AI dan manusia tetap jadi wajah di depan konsumen ini menjadi teknologi pemasaran yang ideal di masa depan.

AI punya kekuatan yang lebih baik soal analisa, data, dan kecepatan memberikan berbagai macam opsi ide.

Baca Juga:
Strategi Digital Marketing 2026 Agar Bisnismu Maju

Solusi Hybrid Orang Marketing dan AI

Solusi di masa depan agar sebuah produk atau brand tetap bisa sukses dalam pemasaran harus menerapkan cara hybrid, manusia sebagai pelaku marketing harus memegang kendali, baik di belakang layar maupun sebagai wajah di mata konsumen harus bisa bekerja dengan AI.

Bisa diibaratkan dengan menggunakan AI, dulu jika seorang marketing benar-benar murni hasil otak manusia, dengan bantuan AI bisa seperti menjadi Ultraman, lebih powerful.

Dalam dunia fiksi, robot yang hebat selalu dikendalikan manusia, bukan murni robot, seperti Iron Man, RoboCop, Power Rangers, dan sebagainya.

Ini sebuah analogi di masa depan, bahwa manusia sebagai marketing tetap memegang kendali dari sisi emosional, budaya, dan kepercayaan dari konsumen yang tetap manusia yang tetap punya dasar jiwa sosial.

Posting Komentar

0 Komentar